Aceh Singkil, Jennews – Musim kemarau ekstrem yang berkepanjangan telah membawa penderitaan bagi ratusan warga di Desa Pemuka, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil. Selama berbulan-bulan, sumber air andalan mereka, sumur-sumur pribadi, telah mengering, menyebabkan krisis air bersih yang melumpuhkan seluruh aktivitas harian.
Kondisi ini diperparah dengan belum tersentuhnya akses air bersih dari PDAM Tirta Singkil di wilayah mereka. “Sudah berbulan-bulan sumur kami kering kerontang. Untuk minum, memasak, mencuci, hingga mandi, kami tidak punya air,” keluh Samsudin, salah satu warga Desa Pemuka, saat ditemui pada Minggu, 29 Juni 2025.
Menurut Samsudin, ketiadaan air bersih telah memaksa warga untuk membatasi aktivitas rumah tangga. Kebutuhan dasar seperti mencuci piring atau pakaian menjadi sebuah kemewahan yang tak lagi bisa dilakukan.
Namun, di tengah kesulitan ini, secercah harapan datang dari anggota dewan setempat, Harian A.Md. Dengan inisiatif pribadi, beliau menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki air untuk didistribusikan langsung ke rumah-rumah warga. Bantuan ini, meskipun bersifat sementara, telah memberikan kelegaan luar biasa bagi masyarakat yang putus asa.
“Bantuan ini nilainya mungkin tak seberapa, tapi manfaatnya luar biasa. Ini adalah wujud kepedulian yang tulus dari beliau sebagai putra daerah,” ujar Samsudin dengan mata berbinar. “Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas keikhlasan Bapak Harian A.Md. Bantuan ini sangat berarti di saat kami benar-benar membutuhkan.”
Menanggapi kondisi ini, Harian A.Md menyatakan keprihatinannya yang mendalam. “Saya sangat prihatin melihat kondisi masyarakat Desa Pemuka. Dengan keringnya sumur-sumur mereka, telah mengganggu seluruh kegiatan sehari-hari. Saya berharap bantuan ini bisa meringankan beban mereka untuk sementara waktu,” katanya.
Bantuan air bersih ini tidak hanya berfungsi sebagai solusi darurat, tetapi juga menjadi bukti nyata kepedulian wakil rakyat terhadap penderitaan yang dialami konstituennya. Masyarakat berharap aksi nyata seperti ini dapat terus berlanjut dan memicu perhatian dari pihak terkait untuk segera memberikan solusi jangka panjang, seperti pembangunan infrastruktur air bersih permanen, sehingga krisis serupa tidak terulang kembali di masa depan.
(Bima Pohan)































